Flora
Pilang
Nama Latin : Acacia leucophloea
Kepadatan : Jarang
Sebaran : Sporadis
Status : Native
Bentuk Daun
Morfologi
Pohon ini adalah pohon besar, berduri, dengan tinggi mencapai 35 meter dan diameter hingga 60 cm. Batangnya tegap, bercabang terbuka membentuk mahkota lebar. Kulit batangnya berwarna putih abu-abu hingga kuning kecoklatan, halus, tetapi pada pohon tua menjadi hitam dan kasar. Daunnya majemuk ganda, hijau, dengan 4-13 pasang sirip. Duri keras tumbuh di dasar daun. Bunga kuning hingga krem, terlihat mencolok dalam malai pada ujung cabang atau di sela-sela daun. Buahnya polong, awalnya hijau kemudian berubah menjadi coklat ketika matang, panjang 10-20 cm, mengandung biji lonjong berwarna coklat tua. Pohon ini tumbuh lambat dan diperkirakan dapat hidup lebih dari satu abad.
Anatomi
Batang pohon Pilang memiliki tiga lapisan: kulit batang yang pada pohon tua berwarna coklat keabu-abuan, kayu dengan pola serat khas coklat tua pada pohon tua, dan empulur yang mengandung pembuluh tapis. Daunnya oval atau lancip dengan serat yang memberikan kekuatan struktural. Akar terbagi menjadi akar serabut dan akar utama, yang berfungsi untuk menyerap air dan nutrisi serta menopang pohon. Sistem pembuluh kompleks membawa air, nutrisi, dan makanan hasil fotosintesis ke seluruh pohon.
Kegunaan
Pohon Acacia leucophloea, juga dikenal sebagai Pilang, memiliki beragam manfaat yang meliputi penggunaan kayunya dalam pembuatan perabotan, bahan bangunan, dan kayu bakar. Selain itu, kulit batangnya dapat dimanfaatkan dalam industri penyamakan kulit. Pohon ini juga memberikan manfaat ekologis dengan akarnya yang mampu menahan erosi tanah, serta memberikan peneduh dan sumber makanan bagi berbagai hewan. Di samping itu, dalam pengobatan tradisional, berbagai bagian dari pohon Pilang digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan seperti gangguan pencernaan dan nyeri.
Deskripsi
Keindahan jenis ini secara fisik juga terutama nampak pada fase dewasa, dimana tajuk memiliki karakter tumbuh melebar, dengan batang berwarna kuning keputihan sehingga cukup mencolok perhatian di tengah hamparan savana yang terbuka, kering dan panas. Kesan “Afrika van Java” pada Savana Baluran, semakin kuat ketika penampakan pohon ini pada lanskap savana dilibatkan.