Flora
Asem
Nama Latin : Tamarindus indica
Kepadatan : Jarang
Sebaran : Sporadis
Status : Native
Bentuk Daun
Morfologi
Pohon besar, semi evergreen, monopodial, tinggi hingga 25 m. Daun tersusun berselang seling, majemuk, menyirip genap, panjang 5-13 cm. Anak daun berhadapan, 10-15 pasang, memanjang hingga bentuk garis, sisi bawah berwarna hijau kebiruan, gundul, berukuran 1-2,5 x 0,5-1 cm. Tandan bunga hampir duduk, panjang 2-16 cm; anak tangkai 1-1,5 cm, dengan daun penumpu yang cepat rontok. Bunganya berwarna kuning pucat dan bergaris merah. Buah berupa polong, kulit tebal, kasar, rapuh, antar ruang biji biasanya menyempit, biasanya melengkung, dan panjangnya 4-13 cm. Setiap polong berisi 1-10 biji yang bersalut daging berupa bubur berwarna coklat, lengket, berserat dan berasa asam.
Anatomi
Batang asem memiliki kulit kasar coklat keabu-abuan yang mengelupas pada pohon tua. Daunnya majemuk genap dengan daun bergerigi dan tersusun spiral di ranting. Bunganya kuning pucat, kelopak dan mahkotanya berjumlah lima. Buah asem adalah polong panjang berkulit keras, berisi daging buah berwarna coklat kehitaman dengan biji berdaging. Sistem akarnya dangkal dan menyebar luas dengan akar serabut untuk menyerap air dan nutrisi.
Kegunaan
Jenis ini juga nampak telah lazim dimanfaatkan buahnya oleh masyarakat setempat sejak lama dahulu, baik masyarakat yang ada di sekitar kawasan maupun masyarakat yang ada di dalam kawasan
Deskripsi
Diluar kawasan jenis ini dapat dijumpai mulai dari yang tumbuh liar hingga yang ditanam, di desa-desa sekitar kawasan baik di areal-areal pertanian, pemukiman, pinggiran jalan, tanah tanah kosong, padang-padang penggembalaan dan pinggiran-pinggiran sungai. Meski telah umum dikenal dan diketahui manfaatnya, tetapi nampaknya masih merupakan hal yang kurang lazim ditanamnya jenis ini di pekarangan pekarangan, kebun atau areal pertanian lainnya oleh masyarakat sekitar pada saat ini.
Pohon ini umumnya banyak dijumpai terutama di pinggir pinggir jalan, baik pada jalan provinsi (jalan raya Banyuwangi-Surabaya yang memotong kawasan) hingga jalan-jalan desa yang telah sejak lama dahulu ditanam sebagai pohon peneduh. Di dalam kawasan keberadaan jenis ini secara umum dapat dikatakan merupakan tumbuhan liar dan tumbuh pada habitat-habitat alami. Meski pada sekitar 10 tahun terakhir hingga saat ini asem masih direkomendasikan sebagai salah satu jenis tanaman untuk berbagai bentuk keperluan berkaitan rehabilitasi.